//
you're reading...
Uncategorized

Kisah seorang Bipolar

Kisah seorang bipolar..

“Bipolar” sesuatu yang masih asing terdengar di telingaku saat seorang gadis muda yang penuh semangat mengatakan ” aku adalah seseorang dengan bipolar, dan ini bukan kehendakku ! jadi jangan menjauh dariku! tetaplah mau menjadi temanku! karena ini bukan keinginanku !!” disertai tetesan air matanya dalam suara yang gemetar.. mendadak suasana di ruang workshop itu menjadi hening, membeku seketika.. semua orang terpaku seolah jarum jam pun enggan untuk meneruskan lajunya.. kulihat beberapa peserta ikut meneteskan air mata..semantara aku terbelalak menatap gadis itu tajam.

Sesaat ku alihkan beranda tulisanku untuk mencari arti kata itu .. untaian kalimat ini yang aku temukan..”Bipolar disorder adalah jenis penyakit psikologi, ditandai dengan perubahan mood (alam perasaan) yang sangat ekstrim, yaitu berupa depresi dan mania. Pengambilan istilah bipolar disorder mengacu pada suasana hati penderitanya yang dapat berganti secara tiba-tiba antara dua kutub (bipolar) yang berlawanan yaitu kebahagiaan (mania) dan kesedihan (depresi) yang ekstrim”. (http://id.wikipedia.org/wiki/Bipolar_disorder) rasa penasaran memaksaku meneruskan membaca paragraf berikutnya…

Setiap orang pada umumnya pernah mengalami suasana hati yang baik (mood high) dan suasana hati yang buruk (mood low). Akan tetapi , seseorang yang menderita bipolar disorder memiliki mood swings yang ekstrim yaitu pola perasaan yang mudah berubah secara drastis. Suatu ketika, seorang pengidap bipolar disorder bisa merasa sangat antusias dan bersemangat (mania). Namun, ketika mood-nya berubah buruk, ia bisa sangat depresi, pesimis, putus asa, bahkan sampai mempunyai keinginan untuk bunuh diri (depresi). Dahulu, penyakit ini disebut dengan “manic-depressive”. Suasana hati meningkat secara klinis disebut sebagai mania atau, jika ringan, hypomania . Individu yang mengalami episode manik juga sering mengalami episode depresi, atau gejala, atau episode campuran dimana kedua fitur mania dan depresi hadir pada waktu yang sama. Episode ini biasanya dipisahkan oleh periode “normal” suasana hati (mood) , tetapi, dalam beberapa depresi, individu dan mania mungkin berganti dengan sangat cepat, yang dikenal sebagai “rapid-cycle”. Manic episode Ekstrim kadang-kadang dapat menyebabkan gejala psikotik seperti delusi dan halusinasi .

Kembali ingatanku menerawang kepada gadis itu,..

Siang itu, suasana di Hotel tempat workshop berlangsung cukup ramai dengan para pengunjung yang didominasi oleh orang berkulit putih..langkahku menuju ruang workshop yang berada di lantai satu ku ayun dengan semangat, semangat bertemu teman baru, berbagi ilmu dan menambah persaudaraan.. sampailah di ruangan yang kutuju, senyuman panitia menyambut hangat kehadiranku yang kemudian mempersilahkanku untuk mengisi daftar hadir, setelah sedikit beramah tamah..telingaku dikagetkan dengan nada suara yang cukup keras tepat berada diarah depanku “Hello, who are you ? my name putri, nice to see you” ujarnya dengan mengulurkan tangan tanda persahabatan, senyuman yang sangat manis menghiasi wajahnya, ku sambut tangannya, lalu ku jawab salamnya, ” hai, my name yuyun, nice to meet you too”.

Aku diantar olehnya memasuki ruangan, semua toolskit dibawakannya dengan senang hati, dia membantuku mendapatkan kursi sampai aku duduk dengan nyaman. Aku terpesona dengan kebaikan gadis ini “Alhamdulillah dipertemukan dengan gadis yang baik hati, sebuah awalan baik memulai hari pertamaku di sini” gumanku dalam hati. Itulah awal mula perhatianku mulai mengarah kepada gadis itu.

Sesi pertama workshop diawali dengan perkenalan, bahasa yang digunakan memang bilingual karena sang moderator berasal dari Australi. Kulihat Putri begitu antusias mengangkat tangannya, menunjukkan semangat yang tinggi untuk memulai perkenalan. Putri memperkenalkan diri dalam bahasa Inggris, dia berbicara dengan baik, sepertinya ia menguasai bahasa itu dengan cukup baik. Setiap oang menyambut antusiasme Putri, sampai semua peserta mendapat giliran secara merata. Memasuki sesi penjelasan dari narasumber disusul kemudian sesi diskusi, kembali Putri mengangkat tangannya, tanda ingin menyampaikan sesuatu. Kesempatan itu ia peroleh, beberapa pertanyaan yang baik terlontar dari bibirnya, dua pertanyaan yang aku ingat. Narasumber menjawab pertanyaan Putri dengan jelas, namun setelah selesai jawaban diberikan, Putri mengangkat tangannya kembali dan memberikan pertanyaannya yang ke tiga. Moderator berusaha memberikan kesempatan yang sama kepada peserta yang lainnya untuk bertanya atau menyampaikan pendapat, dengan menahan jawaban dari pertanyaan Putri.

Kondisi antusias Putri semakin membuat ku tertarik untuk terus memperhatikannya, ada sesuatu yang istimewa menurutku. Aku melihat betapa Putri sedang memancarkan perasaan gembira, senang dan sangat bersemangat dalam mengikuti workshop ini, namun sikapnya masih belum mengarah pada motivasi apa gerangan yang hadir dalam dirinya. Beberapa sikap seperti reaksi kepada setiap peserta pengguna kursi roda yang hendak keluar, dia antar dengan membantu mendorongkan kursi rodanya. Tiba-tiba Putri kembali ingin bertanya dan berkomentar terhadap materi workshop, beberapa pertanyaan dan tanggapan pas dengan isi kajian, beberapa adalah harapan dirinya yang sangat ingin sekali pergi berkunjung ke Australi.

Perubahan rona sikap yang hadir nampak jelas begitu tiba-tiba. Impuls yang ku tangkap seperti yang loncat-loncat, sesuatu yang sulit dibendung dan seperti yang meletup-letup. Perubahan yang cepat dan cukup drastis ini, belum bisa aku petakan.. “apakah gerangan yang dirasakan Putri?” tanyaku dalam hati.
Sampailah pada sesi menjelang akhir workshop, Putri bercerita tentang kondisi dirinya, ketika respon penghuni ruangan mulai memperlihatkan keingintahuan lebih mengenai sikap Putri.

” aku adalah seseorang dengan bipolar, dan ini bukan kehendakku ! jadi jangan menjauh dariku! tetaplah mau menjadi temanku! karena ini bukan keinginanku !!” Kini aku ditinggalkan teman-teman, bahkan suamiku sendiri..padahal ini semua diluar keinginanku, ini karena bipolarku..

tangisnya meluap ketika ia harus mengatakan kalimat demi kalimat yang pahit itu. Air matanya berderai.. dia menangis.. isakannya menjadi nyanyian diantara kesunyian ruangan.. tubuhnya bangkit berjalan ke arah depan dan meminta moderator memeluknya sesaat.. moment yang sulit ku lukiskan, bahkan dengan kata-kata sekalipun..

Sesuatu menusuk hatiku jauuh kedalam..
Pertanyaan-pertanyaan refleksi menghujan satu persatu, tertegun dengan serangan kalimat tanya ini..
Bagaimana seandaiya aku yang mengalami hal tersebut? sesuatu yang berada diluar kontrol diriku menjadi penyebab berubahnya kehidupanku, hilangnya sahabat, kerabat bahkan keluarga sendiri .. merasa sendiri, tidak diterima, merasa terasingkan dan tidak diinginkan keberadaannya.. Aku ada tetapi ingin ditiadakan..

About yuyunberakhiranyuningsih

Seseorang yang diciptakan Tuhan dengan keunikan khusus, memiliki beberapa karakter salah satunya senang bersahabat,saling menyemangati, tidak begitu menyukai menulis, namun sekarang sedang mengupayakan untuk mau menulis ^_^

Diskusi

4 thoughts on “Kisah seorang Bipolar

  1. sudah bagus narasinya….namun belum beres ya ceritanya?

    Posted by Aden | Juli 28, 2012, 10.38
  2. Hebat

    Posted by Rikka mustikawati | Juli 28, 2012, 15.23

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

Kategori

%d blogger menyukai ini: