//
you're reading...
My Journey

Hijab untuk kakiku

“Aneh ya, kakimu yun..” ujar teman sekelasku.. di sela waktu olahraga berlangsung.

Terdiam sesaat, entah respon baik apa yang harus aku berikan kepadanya, hanya  seulas senyuman tipisku menjawab bisu komentarnya mengenai kakiku.

“Ayo yun giliranmu, sebagai penutupan olahraga kita ini, ayo kamu pasti bisa.. gerakannya sederhana hanya pivot saja.. gunakan satu kakimu sebagai poros dan kakimu yang satunya bergerak mengelilingi poros tubuh dengan men-drible bola basketnya” teriak Guru olahragaku.

Kepalaku menggeleng tanda tidak setuju.. “Saya tidak bisa Pak” , jawabku pelan dan menunduk. Salah seorang teman sekelasku berkata “Ayo yun di coba dulu” dia adalah KM kelas kami yang ditugasi Pak Guru untuk membantu membereskan peralatan seusai pelajaran olah raga. Aku memandangnya dengan bahasa mata ” tidak, jangan paksa aku”.

Melihatku hanya terdiam dan tidak mau mengikuti perintah, Pak Guru mendekat dan berkata lebih tegas padaku namun suaranya melembut dan terdengar lebih pelan ” kalau yuyun tidak mau melakukan gerakan sederhana itu, bagaimana Bapak bisa memberikan nilai untuk mata pelajaran olahragamu, jika kamu tidak sedikitpun berusaha untuk melakukan sesuatu selama pelajaran ini berlangsung”

Perkataan lembut namun begitu menusuk hatiku, aku semakin tertunduk dan mulai akan menangis, aku tahan airmata yang mulai menyeruak dan berusaha untuk mengikuti perkataan Pak Guru, aku terbangun dari tempat dudukku, berdiri dengan perlahan dan tertatih.. kaki kiriku yang berbalut sepatu besi ku seret dengan terpaksa, berjalan menuju tengah lapangan, aku mengikuti gerakan Pak Guru dengan seksama. Kaki besiku kujadikan poros sementara kaki kananku bergerak terbata, tanganku memegang bola yang sesekali aku pantulkan mengikuti gerakan badanku yang sempoyongan.Hanya dua gerakan saja aku mampu melakukannya. Akhirnya bola menggelinding ke arah luar lapangan pada saat aku hampir terjatuh. “Sudah yuyun, cukup kamu boleh ke kelas sekarang” kata Pak Guru. Temanku, sang KM menatap dengan pandangan belas kasihannya, yang menambah rasa sedih dalam hatiku.

Aku pergi meninggalkan lapangan olahraga yang saat itu terasa sangat menyeramkan, dengan air mata yang sulit terbendung. Langkah pincangku, kuayun secepat mungkin, semampuku menuju toilet perempuan. Tradisi kami seusai olahraga adalah berganti pakaian, dengan seragam sekolah biasa. Seragam sekolah yang cukup membuatku nyaman dengan rok berempelnya.

Air mataku sulit tertahan lagi, perasaan malu dan tidak nyaman menjadikan hatiku berwarna biru sepekat air laut di kedalaman 1000 km dari permukaannya. Menangis sendiri di dalam salah satu kamar toilet, untuk sesaat hanya ingin menguras airmata ini untuk memberikan kenyamanan pada hati yang sakit.

Bertanya dalam hati.. “Apa yang harus aku lakukan ?” Aku tidak mau orang-orang melihat kakiku yang berbeda ukuran, kakiku yang mungil dan hanya tergantung menghiasi tempatnya tanpa fungsi sebagaimana mestinya. Malu sekali ketika orang memperhatikan kaki ini, kaki yang diberikan Tuhan padaku.

Setelah ke kelas, aku berpapasan dengan salah seorang teman yang baru mengenakan jilbab. “Cantik sekali, dia terlihat begitu anggun” gumanku dalam hati. Ku perhatikan dia dari ujung kepala sampai ujung kakinya dan pandanganku terhenti pada rok lebar dan panjang yang dikenakannya. “Yaaa.. ini yang aku butuhkan rok panjang dan lebar, rok penyelamat kakiku dari pandangan teman-teman yang membuatku malu”

“Bapak dan Mamah, Yuyun mau pake rok panjang.. eh mau pakai jilbab, boleh kan ?” tanyaku sore itu sepulang sekolah. Bapak dan Mamah merasa senang, “Alhamdulillah memang seorang perempuan harus mengenakan jilbab pada saat dia baligh, Yuyun sudah baligh ? ” pertanyaan balik Bapak kepadaku. “Ya Pak, Yuyun sudah baligh” jawabku dengan senyuman lebar. Benar, aku sudah mendapatkan haid pertamaku di usia 14 tahun ini, usia yang cukup telat jika dibandingkan dengan teman-teman sekelasku yang lain. Rata-rata mereka mendapatkan menstruasi pertama pada usia 13 tahun.

Mendapat dukungan yang baik, semangatlah aku mengenakan busana jilbab yang menutup kepalaku sampai kakiku. Yaa kakiku menjadi tertutup sempurna dengan rok panjang. Tidak ada lagi yang akan berani memandang dan mengejekku , karena kakiku tersembunyi dalam busana ini walau cukup membuat gerah.

Kejadian itu berlangsung 16 tahun yang lalu dan merubah kehidupanku di tahun sesudahnya. Selama bertahun-tahun aku merasa nyaman berbusana hijab, tentu saja hal itu adalah pilihan terbaik untuk menutupi kekurangan fisikku. Hingga satu saat Alloh SWT berkenan meluruskannya dengan memperjalankan aku bertemu dengan seorang kakak tingkat di tempat kuliahku.

Dengan ketidak sengajaan aku mengikuti tarbiyah yang diberikan olehnya dalam satu perkumpulan sebuah ikatan mahasiswa pecinta dakwah. Perkumpulan yang asing dan kadang malah membuatku ingin tertawa, karena tujuanku hanya untuk mengisi waktu luang saja daripada sendirian di kost-an yang ditemani tv, lebih baik cari hal positif dan menambah pertemanan dengan mahasiswa lintas jurusan pikirku dalam hati.

Pertemuan demi pertemuan aku ikuti dengan rajin, minggu demi minggunya. Tanpa aku sadari kegiatan itu menjadi pengisi salah satu hari dalam hidupku selama kuliah.
Pagi itu cerah sekali pagi di hari minggu yang sulit aku lupakan , kecuali kalau amnesia.. naudzubillahimindalik. Kami berkumpul seperti biasa disebuah mesjid di daerah sekitar tempatku kuliah, tarbiyah diawali dengan basmalah dan dibacakannya satu ayat Al-Ahzab 56. Beberapa uraian penjelasan yang saat itu sempat aku ingat.

Akhwat semua..
Allah Subhanahu wa Ta’alaa berfirman memerintahkan kepada Rasul-Nya agar menyuruh para wanita mukmin seluruhnya, begitu juga kehususan perintah kepada isteri-isteri dan anak-anak beliau karena kemuliaan mereka, untuk menjulurkan atau menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’alaa, “Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu”, yakni, jika mereka menutupkan jilbab ke seluruh tubuh, niscaya akan mudah dikenal bahwa mereka itu adalah wanita-wanita mukmin yang merdeka. Mereka bukan hamba sahaya dan bukan pula pelacur, dan mereka tidak akan diganggu.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’alaa, Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Perintah menutup aurat ini adalah kasih sayang Alloh kepada kita kaum perempuan, melindungi kita dari gangguan dan menjadi pengenal sebagai seorang muslimah. Tarbiyah ditutup oleh bacaan hamdalah bersama.

Selama perjalanan menuju kostan, kepalaku terngiang-ngiang dengan kaliamat perintah itu, berjilbab adalah perintah Alloh SWT kepadaku, sementara aku sendiri berjilbab bukan dalam rangka melaksanakan perintah Alloh namun lebih kepada mencari solusi agar tubuhku tertutup baik, khususnya kakiku. Agar aku tidak diganggu dan terganggu dengan berbagai komentar mengenai kondisi fisikku yang berbeda. Lalu bagaimana arti berjilbabku ? jika pakaian adat Bali menggunakan kain samping menutup bagian kaki, apakah aku juga akan mengenakannya karena menjadi salah satu solusi dari masalahku ? jika aku dilahirkan di lingkungan Bali, apakah aku akan tetap mengenakan jilbab ? beberapa pertanyaan bolak-balik muncul silih berganti dalam benakku. Semua itu belum terjawab, hingga aku memberanikan diri untuk membuat pertemuan khusus bersama pembina tarbiyah ku, aku ingin membahasnya dan mendapat petunjuk.

“Baik sekali jika saat ini Yuyun mengucapkan Bismillah kembali dalam mengerjakan perintah Alloh ini” ungkapnya sambil tersenyum, sinar matanya lembut memberi keyakinan kepadaku. Gemetar hatiku ketika diminta mengucapkan kata bismillah dan mendzohirkan niatan berjilbab ku. Pernyataan tersebut memenangkan hatiku dan mendorongku untuk memulai lembaran niatan baru dari hal yang sudah terbiasa kulakukan sehari-hari. Wahai pemilik jiwaku, maafkanlah ketidaktahuanku selama ini juga atas keegoisan diri dalam menapaki syareat-Mu, dengan mengucap kata Bismilahirrohmanirrohim Yuyun terima perintah menutup aurat dari-Mu dengan kesadaran dan keridhoan hati, semoga Engkau berkenan menerima amalan ini dan menjadikannya pemberat amal kebaikanku kelak di hari yang telah ditentukan. Walau aku dilahirkan di pulau Bali atau bahkan negara India sekalipun ketika sari menjadi pakaian indah bagi perempuan namun perintah-Mu menjadi pilihan tak terkalahkan untuk aku ikuti dengan keikhlasan.

__Ikutilah peritah-Nya, hanya untuk keridhoan-Nya, maka sejuta kebaikan akan terbuka, Insyaallah__

About yuyunberakhiranyuningsih

Seseorang yang diciptakan Tuhan dengan keunikan khusus, memiliki beberapa karakter salah satunya senang bersahabat,saling menyemangati, tidak begitu menyukai menulis, namun sekarang sedang mengupayakan untuk mau menulis ^_^

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

Kategori

%d blogger menyukai ini: